PSBB Jilid II DKI, Perekonomian Diprediksi Merosot -1%

PSBB Jilid II DKI, Perekonomian Diprediksi Merosot -1%

PSBB Jilid II DKI, Perekonomian Diprediksi Merosot -1%

PENGKRITIK Ekonomi Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, memprediksi dampak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta pertumbuhan perekonomian akan minus atau terkontraksi hingga minus 1%.

“PSBB kali ini menurut perhitungan ana akan terkontraksi hingga minus 1% per 2 pekan PSBB diterapkan, ” kata Fithra saat dihubungi, Rabu (16/9).

Baca juga:   Bank DKI Kucurkan Rekognisi ke UMKM Jakpreneur

“Karena PSBB tersebut kita asumsikan hingga 2 pasar kita perhitungan pertumbuhan perekonomian tersedia di angka minus 0, 6% sampai minus 1% artinya Rp90-150 triliun per 2 pekan, ” tambahnya.

Namun, hal itu masih mampu ditolerir asalkan pemerintah dan masyarakat bekerja sama memitigasi pandemi itu dengan baik karena perekonomian juga harus dilihat dari jangka panjang.

“Meski penerapan PSBB ini akan berdampak pada perekonomian jangka pendek, tetapi kami selalu melihat jangka menengah dan panjang, ” ujar Fithra.

Contohnya seperti yang terjadi di Tiongkok sebagai epicentrum dari virus covid, yang memberlakukan lockdown di Praja Wuhan. Kemudian setelah lockdown terdapat aktivitas ekonomi yang signifikan.

Meskipun Tiongkok terutama Kota Wuhan perekonomiannya di dalam kuartal I terkontraksi hingga kurang 7% tetapi di kuartal II tumbuh positif 3%, dan Tiongkok tidak pernah mengalami resesi.   “Jika dilihat PSBB kali tersebut tentu akan ada hal buruknya di jangka pendek dan tentunya akan kita tuju di jangka panjang, ” jelasnya.

Faishal juga mengungkapkan bahwa penilaian PSBB tidak mampu dilihat dalam 1-2 hari masa diterapkan.

“Saya lihat hari pertama pengamalan PSBB ke 2 ini belum terlalu terlihat ya baik pergeseran masyarakat dan dampak perekonomian. Peristiwa itu dikarenakan masih banyak perusahaan-perusahaan masih menunda melakukan Work From Home (WFH) atau meliburkan karyawannya, ” ungkapnya.

Yang sudah jelas, tentunya mobilitas masyarakat pasti terdampak. Sebelumnya dilihat dari Google Mobility Report sudah hampir recovery dari PSBB tahap 1 terkait mobilitas kelompok.

Tetapi ketika PSBB tahap 2 diberlakukan pasti akan terdampak namun seluruhnya lagi masih belum terlihat.

“Pada awalnya mobilitas masyarakat seperti pada Januari 2020, dengan adanya PSBB bagian II ini pasti sudah mendarat lagi. Yang terdampak paling luhur pasti perhotelan, perdagangan dan juga transportasi paling besar dampak negatifnya, ” tuturnya.

“Tapi sekali lagi tanpa dilihat jangka pendeknya. tapi dilihat jangka panjangnya seperti yang dianggap presiden yang perlu dirubah serupa variabel kesehatan itu penting, ” pungkasnya. (OL-6)