Paham

Paham

    SEBUAH iklan dengan tema ingat perintah ibu, di salah utama stasiun televisi dan saluran Youtube menayangkan pentingnya menggunakan masker. Dalam tayangan tersebut, beberapa diantara kita yang berperan jadi ibu mengingatkan anak-anak dan suami masing-masing, agar kemanapun pergi, pesan mereka sebagai ibu   hanya kepala dan sama “jangan lengah pakai masker”.   Suruhan yang serupa juga disampaikan agregasi band Padi dalam pembawaan mereka berjudul Ingat Pesan Ibu   sebagai salah kepala upaya mereka memerangi penyebaran covid-19 di Indonesia.

    Kita patut mengiakan, bahwa selama satu separuh tahun terakhir, seiring pandemi covid-19 yang terus menelan korban, aturan memakai kedok menjadi satu diantara wujud jelas era kenormalan baru. Kedok adalah barang yang tetap dibawa kemanapun di masa pandemi covid-19.   Masuknya masker, sebagai salah mulia barang bawaan utama seseorang saat bepergian, bersentuhan secara self-safety action . Maka, menelisik makna terdalam iklan dan lagu Ingat Pesan Ibu secara sosial, sebenarnya bisa diartikan sebagai ingat habitus mutakhir yang menyelamatkan sesama.

    Habitus baru dengan menyelamatkan sesama itu benar penting, demi menghindari munculnya petaka sosial yang berpengaruh nasional. Petaka sosial dengan berdampak secara nasional, benar sedang mengguncang bangsa kita. Itu terjadi, karena ulah dari segelintir anak bangsa yang tidak patuh di dalam protokol kesehatan. Harus diakui, bahwa sampai saat tersebut, segelintir anak bangsa berharta dalam situasi tercabik kelanjutan berlarutnya pandemi covid-19. Ketika anak bangsa lainnya, langsung berupaya menghindar dari status keterpurukan ini, sebagian yang lain, justru tidak mematuhi 3M dan aturan lain dengan dibuat, dalam upaya   penyelamatan warga dari pandemi covid -19.

    Momentum merefleksikan kembali semangat kebangsaan, melalui Hari Penentangan Nasional (Harkitnas), bisa menjelma jawaban bagi bangsa Indonesia agar segera bangkit sebab kelemahan mental seperti itu. Maka, peringatan Harkitnas saat itu, mestinya beririsan dengan vitalitas perjuangan semua elemen bani terhindar dari cengkeraman pandemi covid-19. Dampak covid-19 tak hanya merenggut puluhan ribu nyawa anak bangsa, tetapi juga menciptakan ketidakpastian tumbuh bagi generasi sekarang serta yang akan datang. Pandemi covid-19 telah meluluhlantakan seluruh episentrum kehidupan berbangsa dan bernegara. Khususnya, bidang ekonomi, sosial dan pendidikan.

      Memang berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, dari pusat sampai wilayah demi memutus mata pertalian penyebaran covid-19 sebagai cara sadar, dan terencana menyelamatkan masyarakat dari kesengsaraan berulang-ulang. Seluruh elemen bangsa, kudu mengikuti skema pemulihan yang telah ditata dan diatur oleh Satgas Nasional Covid-19 berdasarkan situasi kedaruratan kesehatan yang ada.

    Media massa, baik nasional maupun lokal satu sinting suara dan kata me pentingnya penerapan protokol kesehatan, sebagai habitus baru di kehidupan. Penerapan protokol kesehatan, walaupun dianggap sederhana serta sepele, namun, dampaknya sangat luar biasa dalam menyelamatkan nyawa semua orang.  

    Melalui berbagai media baik cetak maupun eletronik tagline 3M membasuh tangan, menjaga jarak, serta memakai masker, adalah instruksi dan petuah sederhana dengan sangat humanis, sebagai sepadan bentuk kesadaran awal untuk masyarakat memutus mata ikatan penyebaran covid-19.  

    Aturan lain, serupa telah dibuat pemerintah dan terus digaungkan demi keselamatan semua lapisan masyarakat. Kurang dan lebihnya, penerapan adat kesehatan sudah dialami. Namun terhadap aturan tersebut, respon masyarakat pun beragam. Tersedia yang menerima aturan negeri itu secara bijak, namun, ada pula yang menyelenggarakan pembangkangan. Pembangkangan itu dilatarbelakangi oleh berbagai argumentasi masing-masing anak bangsa tentang virus covid-19.   Di lapangan gerakan kesadaran mematuhi protokol kesehatan masih belum menjelma sandaran utama bagi semesta masyarakat.

Kedisiplinan sosial

Jalan menegakan protokol kesehatan, sebenarnya bicara tentang praktik kedisiplinan sosial dalam skala regional dan nasional. Agar lahir kedisiplinan sosial, mesti dimulai dari kedisiplinan kecil dengan dilakukan oleh tiap karakter. Menurut Hasibuan(2002), disiplin ialah suatu sikap menghormati & menghargai suatu peraturan yang berlaku, baik secara tertulis maupun tidak tertulis, dan, sanggup menjalankannya, dan, tak menolak menerima sanksi apabila melanggar.  

    Dalam konteks pengendalian covid-19, konsep dan penerapan 3M sebenarnya sudah sangat pas, jelas dan diketahui sebab seluruh elemen bangsa. Hanya saja, kepedulian dan kesadaran untuk patuh pada aturan menjalankannya, menjadi persoalan tersendiri. Kejadian itu, dilatarbelakangi sikap serta jiwa kedisiplinan yang beraneka macam. Ditambah lagi, gaung serta gema gerakan disiplin nasional sudah pudar dari sisi kehidupan berbangsa.  

      Disiplin, merupakan bagian dari pribadi bani adam sekaligus simbol dan kekhasan yang ada di diri, kemudian diwujudkan dengan sosial lalu berdampak dengan nasional. Di sini, pendirian disiplin secara sosial adalah kumpulan disiplin kecil dengan terjadi dalam internal pribadi dan antarindividu. Jika seseorang memiliki kesadaran secara personal mentaati aturan 3M, oleh karena itu salah satu bagian terutama dari pencegahan covid-19 terlaksana dengan baik. Pandemi covid-19 tidak akan berlarut lebur.

      Peraturan itu bagian dari etika sosial. Ketidakdisiplinan seseorang bisa berpengaruh terhadap kehidupan orang lain. Situasi ini, sewarna dengan pola dan huruf penyebaran covid-19. Masifnya penyebaran covid 19, disebabkan oleh rendahnya kedisiplinan masyarakat mengikuti protokol kesehatan. Mestinya, kesadaran menjalankan protokol kesehatan adalah kunci utama, bangkitnya semesta elemen bangsa dari pandemi covid-19.

    Begitu besar dampak lanjutan dari covid-19, maka kedisiplinan baik perlu ditegakkan dengan bahana pada semua lapisan klub. Deru penyebaran covid 19 yang tidak terbendung akhirnya ini, disebabkan oleh level ketidakdisiplinan masyarakat menerapkan adat kesehatan yang kendor. Situasi ini, membuat seluruh elemen bangsa tetap berada di dalam situasi chaos akibat pandemi covid-19. Dampaknya, akan menuju, dan menjalar ke mana-mana, jika tidak terkendali secara cepat.

    Belakangan ini, makin banyak masyarakat yang bersikap tidak ingat terhadap protokol kesehatan. Gerombolan di tempat umum, tak bisa dihindari seperti dengan terjadi beberapa wadah wisata. Pemerintah melarang mudik, tetapi sebagian masyarakat tentu mudik. Pemerintah melarang berkunjung ke tempat wisata, faktanya, banyak masyarakat yang tidak mengikuti aturan itu. Sehingga, muncul kluster wisata sejak penyebaran covid-19. Ini semua terjadi, karena tingkat kedisiplinan masyarakat sangat rendah. Sebagian masyarakat masih merasa kukuh dengan virus.  

      Apa dengan terjadi India ialah bukti, bagaimana bahaya ketidakdisiplinan itu merajalela. Bangsa dan negara India dikepung sebab kesengsaraan luar biasa kelanjutan tsunami pandemi covid-19 yang dahsyat sejak sebulan berserakan. Indonesia, tentu saja berharap tidak mengalami hal selaku seperti di India. Tetapi, hal itu bisa terjadi jika masyarakat tidak memiliki kesadaran disiplin, mengikuti protokol kesehatan.

Disiplin berbangsa

Kebangunan Nasional konteks kekinian, berselirat dengan upaya bagaimana keluar dari kondisi bangsa yang mulai redup menerapkan kedisiplinan nasional. Penerapan kedisiplinan nasional, sebenarnya sudah lama dikumandangkan. Bahkan, di zaman Sistem Baru, lagu mari berdisiplin dijadikan lagu wajib bagi semua lembaga pemerintahan & pendidikan.  

    Syair dalam lagu itu, interpreatsi dari lagu itu, berujung pada pemahaman kalau kedisiplinan itu mesti diterapkan sebagai garda terdepan sebuah bangsa bangkit. Kalau tidak disiplin, bagaimana mungkin sebuah bangsa bangkit dari keterpurukan.  

      Beberapa negara maju pada Asia, khususnya seperti Jepang dan Tiongkok, masyarakatnya dengan perlahan terhindar dari pandemi covid-19. Terutama, karena awak negaranya patuh pada adat kesehatan yang dibuat negeri.   Ditambah dengan tingkat kedisiplinan masyarakat yang betul tinggi. Sehingga, kepatuhan dengan individu dan sosial akan protokol kesehatan terjaga.  

      Oleh sebab itu, Kebangkitan Nasional menjadi paksa semua elemen bangsa, buat meningkatkan kesadaran, kedisiplinan sosial berskala nasional. Hanya secara sikap disiplin, bangsa Indoneia akan bebas dari pandemi covid-19. Menyimak syair pada lagu ‘Mari-Mari Berdisiplin’ dengan menganggap disiplin sebagai pokok kejayaan bangsa, dan sebagai bagian dari pengamalan Pancasila mesti dilakukan oleh semua elemen bangsa.