Memunculkan kembali Pakem Membatik di Sendangduwur

Memunculkan kembali Pakem Membatik di Sendangduwur

Memunculkan kembali Pakem Membatik di Sendangduwur

SEORANG perempuan berjilbab terlihat sedang meniup canting yang baru saja dicelupkan ke malam. Tangan kiri memegang kain mori oleh motif bunga dan
kupu-kupu. Ia merupakan salah satu pembatik di Desa Sendangduwur, Kabupaten Lamongan, yang sebelumnya mengikuti pelatihan membatik dari pakar batik asal
Pekalongan, Mustar Sidiq.

“Batik Lamongan tersebut dibuatnya secara autodidak, warisan turuntemurun. Pembuatannya pun diajarkan dari rumah ke rumah, mulut ke mulut. Belum ada teknik
membatik yang standar di desa kami, ” terang Ketua Koperasi Wanita (Kopwan) di Bidang Batik, Rohayatin, 53, kepada Media Indonesia, Kamis (7/8), yang juga
turut dalam pelatihan.

Menurut Rohayatin, motif khas batik Lamongan ialah bandeng lele yang menjadi motif khas wilayah tersebut. Namun, motif asli dari Sendangduwur ialah melati.

“Bahkan, motif tersebut sudah ada sejak zaman Sunan Drajat, salah satu Wali Songo asal Lamongan, ” kata Rohayatin.

Saat diwawancarai secara terpisah, Mustar Sidiq mengakui pada umumnya batik lamongan masuk ke generasi batik tua yg dipengaruhi Tiongkok. “(Motif) batik
Lamongan itu mirip dengan Lasem, motif pesisiran. Masuknya batik ke Lamongan sama dengan Lasem, ialah oleh pedagang, ” cerita Sidiq.

Sesudah Sunan Drajat menyebarkan Islam di Lamongan, batik Lamongan berkembang oleh nuansa Islam. Konsep pelatihannya, ujar Sidiq, ialah mengembalikan batik dalam cita
rasa aslinya. Menurutnya, pelatihan batik di desa Sendangduwur fokusnya ialah menjadikan perajinnya wirausaha andal. “Kami mengajarkan mengembalikan metode batik aslinya.

Bagaimana mencanting yang benar dan bukan mengubah motifnya, ” tuturnya. Mustar Sidiq pun juga mengajarkan pamasaran (marketing) batik agar lebih berdaya.

Pada 2020, pelatihan Mustar Sidiq di Lamongan didukung system penelitian Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia yang dipimpin Lilawati Kurnia.

Lilawati kurnia bersama timnya memilih Desa Sendangduwur karena motifnya memiliki ciri khas. Hal ini terpancar dri guratan Batik Sendang yang berkembang pada
masa transisi Majapahit-Demak-Giri.

“Sayangnya, sebagian besar batik daerah ini belum bisa dipasarkan secara komersial karena masih kurang nilai jualnya. Batik yang ditawarkan masih kasar, baik secara
motif maupun kurang isian atau kurang halus pencantingannya, ” ujar Lilawati yg juga pengajar program studi Social Studies di FIB UI tersebut. Oleh karena itu, target dari program Pengmas di Sendangduwur Lamongan ialah menjadikan produksi batik tulis di sana mencapai kualitas halus sebuah batik, baik motif juga pewarnaannya. (Dwi Tupani/H-3)