Kementan Keluarkan SE tentang Pelaksanaan Kurban Saat Pandemi

Kementan Keluarkan SE tentang Pelaksanaan Kurban Saat Pandemi

Kementan Keluarkan SE tentang Pelaksanaan Kurban Saat Pandemi

Pengoperasian kurban diatur dalam Peraturan Gajah Pertanian Nomor 114/Permentan/PD. 410/9/2014 tentang Pemotongan Hewan Kurban. Sehubungan dengan pelaksanaan pemotongan kurban pada Keadaan Raya Idul Adha 1441 H, pemerintah berupaya melakukan penyesuaian mengenai pelaksanaan kurban, mengingat saat itu Indonesia masih berada dalam situasi pandemi Covid-19.

Kegiatan kurban yang mengungkung penjualan hewan kurban dan pengeratan hewan kurban perlu penyesuaian secara prosedur new normal atau kenormalan baru dalam situasi pandemi Covid-19.

Untuk itu, Kementerian Pertanian (Kementan) meniti Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan tubuh Hewan (Ditjen PKH) mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang Pelaksanaan Kegiatan Kurban dalam Situasi Wabah Bencana Nonalam Corona Virus Disease (Covid-19).

Baca Juga: Kementan Jamin Kesehatan 1, 3 Juta Hewan Kurban

Direktur Jenderal Peternakan serta Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Dirjen PKH Kementan), I Ketut Diarmita mengatakan, SE ini juga jadi petunjuk pelaksanaan kegiatan kurban dengan penyesuaian penerapan new normal ataupun kenormalan baru di tengah pandemi Covid-19.

“Selain itu, harapannya lewat tulisan edaran ini kegiatan pelaksanaan kegiatan kurban di tengah situasi pandemi Covid-19 tetap berjalan optimal secara mempertimbangkan aspek pencegahan dari penyaluran Covid-19, ” kata Ketut, Jumat (12/6).

Dikatakan Ketut, surat ini ditujukan kepada Gubernur, Bupati, dan Pemangku Kota seluruh Indonesia. Kemudian disampaikan kepada dinas terkait yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan, atau instansi terkait yang membidangi fungsi kesehatan dan fungsi keagamaan, serta diteruskan juga ke organisasi masyarakat yang membidangi keagamaan.

Mengaji Juga: Penjaga Apresiasi Kementan Pembelian Ayam Tumbuh di 6 Provinsi

Ketut menegaskan, langkah-langkah pencegahan potensi penularan Covid-19 pada tempat penjualan dan pemotongan persembahan perlu diperhatikan, seperti menjaga jeda saat interaksi saat kegiatan kurban dan menghindari perpindahan orang mengiringi wilayah pada saat kegiatan kurban.

“Memperhatikan juga status wilayah tempat kesibukan kurban serta edukasi soal bahayanya covid-19, dan bagaimana cara penularannya, ” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Kesehatan tubuh Masyarakat Veteriner, Drh. Syamsul Ma`arif, M. Si menyebutkan, surat ini akan memberikan rekomendasi dalam kegiatan penjualan hewan kurban dan pengeratan hewan kurban.

Dalam kegiatan penjualan hewan kurban, Syamsul menegaskan harus memenuhi syarat seperti jaga jarak wujud, penerapan kebersihan personal dan kejernihan tempat, serta pemeriksaan kesehatan.

Membaca Juga: Kementan Terlanjur Pengembangan Pemasaran Komoditas Peternakan

“Penjualan hewan kurban juga harus dilakukan di tempat yang telah mendapat persetujuan dari kepala daerah setempat, ” ujar Syamsul.

Penjualan hewan kurban selalu dikatakan harus melibatkan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), Badan Amil Derma Nasional (BAZNAS), atau organisasi & lembaga amil zakat lainnya.

Harapannya para organisasi dan lembaga amil derma ini bisa membantu pengaturan peraturan cara penjualan hewan kurban dengan meliputi pembatasan waktu, layout wadah penjualan dan penempatan fasilitas media kebersihan.

Selain itu, penjual hewan kurban juga harus dilengkapi dengan corong pelindung diri (APD) minimal berupa masker, lengan panjang, dan menyarung tangan sekali pakai selama di tempat penjualan.

Setiap orang yang masuk ke tempat penjualan juga diharuskan mencuci tangan lebih dulu memakai sabun atau hand sanitizer. Bagi penjual yang berasal dari asing wilayah harus dalam kondisi sehat dengan melampirkan surat keterangan sehat dari puskesmas atau rumah kecil.

“Setiap tempat penjualan juga wajib dilengkapi dengan pengukur suhu tubuh, wadah cuci tangan dengan air mengalir dan tempat pembuangan limbah tahi hewan yang aman, ” nyata Syamsul.

Setiap orang juga diimbau untuk menghindari jabat tangan atau bersentuhan langsung selama kegiatan kurban. Semrawut, setiap orang yang berkegiatan persembahan diharuskan membawa dan menggunakan bahan pribadi seperti perlengkapan salat dan perlengkapan makan sendiri.

Syamsul menambahkan, sesudah pulang dari tempat kurban, setiap orang juga wajib mandi serta membersihkan diri sebelum kontak langsung dengan anggota keluarga yang tersedia di rumah.

Untuk kegiatan pemotongan hewan kurban, tidak banyak berbeda dengan penjualan hewan kurban yaitu tetap menerapkan protokol kesehatan berupa terbuka jarak, jaga kebersihan dan memakai masker atau face shield semasa kegiatan pemotongan hewan kurban.

“Para aparat pemotongan hewan perlu diedukasi mengenai cara penyebaran Covid-19 seperti hindari memegang muka, mulut, hidung, serta mata. Jumlah petugas dalam mulia ruangan juga perlu diatur diminimalisir agar bisa menerapkan jaga renggang, ” papar Syamsul.

Petugas pemotongan hewan kurban juga diimbau untuk tak merokok, meludah dan memperhatikan etika bersin serta batuk selama berkegiatan pemotongan kurban. Selain itu, petugas pemotongan hewan kurban juga diharuskan berasal dari lingkungan atau mulia wilayah dengan tempat pemotongan hewan dan tidak sedang masa karantina mandiri.

Dikatakan Syamsul, pembinaan dan perlindungan pelaksanaan pemotongan hewan kurban pada situasi pandemi Covid-19 ini dikerjakan pemerintah, dinas kabuptan/kota yang membidangi fungsi kesehatan masyarakat veteriner & kesehatan hewan bersinegri dengan jawatan yang membidangi fungsi kesehatan, beserta instansi terkait lainnya.

“Dalam pelaksanaan pembinaan dan pengawasan ini harus bersinegri atau berkoodinasi dengan instansi yang membidangi fungsi kesehatan serta badan yang membidangi fungsi keagamaan, ” tuturnya. (RO/OL-10)