Gerombolan yang Selalu Istimewa, bahkan Era Depresi Ekonomi

Gerombolan yang Selalu Istimewa, bahkan Era Depresi Ekonomi

Gerombolan yang Selalu Istimewa, bahkan Era Depresi Ekonomi

Mengakui untuk menyimak geliat rupa kesibukan manusia. Saat makmur maupun zaman kondisi ekonomi serbasulit, keduanya tampan dibincangkan dalam kesetaraan. Bahkan bilamana pandemi covid-19 sekarang, masa lalu masih relevan, khususnya ketika dunia tengah dibayangi perlambatan perekonomian & ancaman resesi global.

Beberapa puluh tarikh lalu Hindia Belanda pernah menggalami depresi ekonomi. Segalanya lalu berubah, termasuk gaya hidup. Itulah dengan coba direkam buku Bergaya pada Masa Sulit: Gaya Hidup Masyarakat Eropa di Batavia Masa Depresi Ekonomi 1930-1939, karya Agung Wibowo.

Wacana ini menjadi menarik berkenaan secara momentum pandemi covid-19. Belajar lantaran masa lalu, karena masa kini tak pernah lepas dari sejarah dan masa depan.

Kejatuhan bursa saham di Wall Street, New York, pada 1929 menjadi awal daripada depresi besar yang mengguncang dunia. Hindia Belanda tak luput lantaran krisis. Batavia menjadi saksi betapa krisis itu mengubah gaya tumbuh masyarakat sebagai respons dari situasi saat itu.

Pada 1930, angka pengangguran meningkat sejalan dengan kemerosotan buatan perusahaan. Masyarakat pun mengupayakan segala sesuatu untuk bertahan hidup. Era itu, dampak depresi ekonomi digambarkan sangat menakutkan. ‘Mending jadi pengemis dibanding buruh bergaji. Karena upah yang mereka terpotong separuh’ (hlm 34).

Lalu bagaimana dengan mereka dengan mendapat hak istimewa seperti kalangan Eropa maupun kalangan kelas pada? Tentu saja mereka terdampak, tapi tidak signifikan. Itulah yang digambarkan media pada saat itu. ‘Orang-orang Eropa yang terkesan agak sempurna adalah hal yang benar’ (hlm 70).

Dalam fesyen, misalnya, terjadi transisi gaya mode dari yang halal menjadi lebih santai dan rileks. ‘Ibarat melepas kepenatan ketika kemunduran terjadi. Misalnya saja pakaian yang terlihat kasual dan santai lebih sering digunakan ketimbang pakaian pejabat yang rumit dan lebih mengekang eks­presi tubuh, termasuk dalam hal pakaian’ (hlm 54).

Sayangnya, pakaian itu mereka peroleh dari Paris dan London. Bukan didapat dari buatan Bumiputra di Hindia Belanda.

Pada denyut hiburan dan bersolek, malah muncul berbagai ke­­bia­saan baru. Penginapan, misal­nya, terdapat berbagai macam tem­pat wisata di Batavia yang di­ja­dikan data ketika depresi ekonomi sebagai barang wi­sata.

‘Hotel adalah salah satu bangunan yang dijadikan komoditas wisata pada Batavia ketika depresi’ (hlm 63).

Selain itu, akibat krisis ekonomi negeri, bermunculan berbagai macam sistem pabrik rumahan, manufaktur, serta industri bengkel di Batavia. Agung juga memfoto kemunculan kelompok masyarakat pesolek dengan doyan berpesta dan sedikit hura-hura.

‘Masa depresi juga cenderung memunculkan generasi baru yang disebut generasi pesolek’  (hlm 66).

Hiburan pada saat itu sudah membentuk dunia yang komersial dan menguntungkan. Di pasar juga berangkat diperjualbelikan produk impor. Orang Eropa sangat jarang menggunakan produk lokal. Sama halnya dalam soal metode, kosmetik juga didapat dari Paris atau London.

Agung juga mencatat kurang olahraga yang bangkit di era depresi. Salah satu yang mencengangkan ialah dibangunnya sirkuit balap mobil (race terrain) di daerah Menteng.

“Pada akhirnya didapat kesimpulan bahwa umum Eropa di Batavia dari bagian gaya hidup melalui visualisasi yang tergambar di surat kabar serta majalah sezaman tidak terpengaruh buah depresi ekonomi. Hal ini disebabkan oleh hak istimewa (privilese) yang mereka dapat dalam politik segregasi. Masyarakat golongan paling atas diupayakan mendapat pengaruh depresi ekonomi seminim mungkin, ” simpul Agung. (Zuq/M-2)