Demi Eksistensi

Demi Eksistensi

Demi Eksistensi

TEPIAN kolam menjadi saksi bisu atas setia seorang anak. Ia tak bermaksud memprotes keputusan ayahandanya, tetapi dengan rela menyerahkan segalanya untuk sakinah sang bapak.  

Tak hanya sahih atas takhta, bahkan ia rela mengambil sumpah tak menikah serta tak berketurunan. Semua itu  dilakukannya atas nama bakti seorang bani kepada orangtua. Ia hendak memenuhi keinginan sang ayah yang ingin mempersunting seorang perempuan.

Dewabrata adalah putra Prabu Sentanu yang tengah heran dengan kecantikan Dewi Setyowati. Sentanu hendak mempersuntingnya. Setyowati berucap kondisi mutlak agar takhta diberikan pada keturunannya. Ia  bersedia dipersunting asalkan putranya kelak menjadi raja pada Hastinapura.

Di tepi danau itu, tempat kehendak sendiri, Dewabrata berucap ikrar berlandaskan jiwa bakti. Ia suka melepas haknya atas takhta Kerajaan Hastinapura. Ia juga bersumpah tak menikah untuk meyakinkan Setyowati kalau tidak akan ada keturunan Dewabrata yang mengusik takhta.

Begitu mula bagian Bhisma Mahawira oleh Wayang Orang  Bharata. Pentas daring itu disiarkan langsung melalui kanal Youtube WO BHARATA Official pada Sabtu(1/8). ‘Tombo Kangen’ (obat kangen), begitu dengan tampak dalam layar pembukaan arena.  

Memang tajuk itu begitu sesuai. Bagi pencinta seni tradisi tunggal orang, 4 bulan sudah sungguh-sungguh lama untuk tidak menyaksikan pentas. Bagi mereka, tontonan itu serupa sebagai tuntunan dalam hidup. Ada banyak pesan moral dalam suatu lakon. Panggung selayaknya cermin tumbuh dari tata laku hidup manusia.

Kembali pada jalan cerita, Dewabrata bertamu ke Kerajaan Kasipura. Prabu Kasendra tengah mengadakan sayembara perang untuk mencari pendamping bagi tiga putrinya; Amba, Ambika, dan Ambalika. Siapa pun yang  bisa mengalahkan Wahmuko dan Arimuko berhak memboyong ketiga putri.  

Para raja tidak ada satu pun yang bisa menandingi kesaktian Wahmuko dan Arimuko. Maka Dewabrata hadir dan menang. Ia berhasil mengalahkan keduanya. Prabu Kasendra pun menyerahkan ketiga putrinya kepada Dewabrata. Dewabrata menjelaskan kepada Amba bahwa  ketiga putri itu tidak untuk dirinya, melainkan untuk  muda tirinya. Dewi Amba sangat putus dengan penjelasan Dewabrata.   Buah hati Amba merasa terhina cintanya tertolak.

Buah hati Amba tetap menunggu sampai pustaka pun untuk tetap  bersama Dewabrata. Dewi Amba pun membakar dirinya. Padahal, Dewabrata (Bisma) juga sering dengan Amba. Namun, ia berteguh pada sumpah untuk tidak beristri dengan segala risiko.

“Di situ membuktikan Bisma adalah kesatria yang menyimpan teguh sumpah, ” terang pemrakarsa Slameto.

Selain itu, menurut Slameto, Dewabrata adalah sosok yang berbakti kepada orangtua. Ia rela menyerahkan segalanya demi kebahagiaan sang ayah. Waktu berlalu, Perang Bharatayuda tiba. Dewabrata kini menyandang nama Resi Bisma. Ia bertindak sebagai Senopati Kurawa yang mengalahkan Raden Utoro dan Raden Wratsangko.

Sedemikian sakti, hingga Senopati Pandawa Resi Seta pun tidak mampu menghadapi Resi Bisma. Belakangan Dewi Srikandi didapuk menjadi Senopati Pandawa. Sebenarnya Srikandi bukan imbangan Resi Bisma. Namun, perang tanding berbincang lain kala bayangan Dewi Amba muncul.

Bisma gelisah hingga terbunuh di medan Kurusetra. Amba menyambut Resi Bisma. Mereka berdua hidup bahagia di alam baka. Berbincang tentang plot, ada beberapa cara yang berbeda.

Sebagai contoh ketika Wahmuko dan Arimuko dikalahkan Dewabrata. Keduanya digambarkan sebagai sosok sakti yang suram mati. Ketika salah satu mati maka ia bisa kembali hidup jika dilangkahi oleh saudaranya. Memang  gambaran itu tidak muncul pada pangadeganan tempur.

Dalang Slameto mengungkapkan hal itu tidak menjadi persoalan pokok ada beberapa versi yang dianut dalam cerita wayang. Yang terpenting tidak mengubah pakem, baku, maupun garis besar cerita.

“Wayang itu tidak bisa diperdebatkan. Soalnya, sumbernya banyak, ” ungkap Slameto.

Begitu pun dengan kematian Dewi Amba, ada ragam yang mengungkap kematian Dewi Amba karena panah Dewabrata. Namun, di dalam lakon itu, digambarkan Amba menghasut diri.   Beragam kesulitan serupa dihadapi WO Bharata untuk mendaringkan pentas. Dalang, misalnya, menghadapi kesulitan penyesuaian durasi yang dibatasi cuma 1, 5 jam.  

Padahal lazimnya, dalam pentas luring, pertunjukan  dekat selalu 3 jam, bahkan lebih. Artinya ada banyak penyesuaian dengan harus dilakukan.

Kesulitan

Terkait dengan covid-19, pimpinan produksi Kenthus Bharata menyebut ada dua kesulitan utama, yakni garapan panggung dan pendaringan. Jika dalam pertunjukan luring, tim WO Bharata sudah hampir hapal seluk-beluk  panggung, tinggal pengkajian saja.

Pentas daring sebaliknya, mereka harus mulai dari hal paling dasar. Sebut saja mereka menurunkan kekuatan kolosal dari sebuah pentas. Tidak ada lagi jumlah pemain masif dan penari banyak. Di arah panggung pun harus memperhatikan tenggang. Belum lagi persoalan  jaringan & teknis pendaringan pentas.

“Jadi dua order rumah (PR), garapan di stan dan garapan untuk live streaming (siaran langsung). PR-nya jadi besar, dulu satu, sekarang jadi perut, ” ujarnya.

Belum lagi soalan ongkos produksi yang belum ketemu pangkalnya. Donasi yang masuk hanya siap menutup separuh dari ongkos penerapan. Padahal pentas itu melibatkan hampir 129 seniman dan kru.

“Separuh dibanding biaya kami live streaming , ada donasi itu bisa menutupi separuhnya. Tapi benar kita bertekad bahwa ini pelestarian. Kalau nggak begini, eksistensi ana akan mandek. Semangat teman-teman pula akan mandek kalau nggak aku adakan, paksakan, seperti ini, ” ungkap
Kenthus.

Hampir empat bulan tak berkegiatan. Tak ayal mewujudkan badan pegal-pegal plus meriang. Tersedia rasa rindu dan kangen secara gemerlap lampu panggung. Sorak dan tawa penonton adalah energi dengan tergantikan bagi para  seniman stan. Bagi mereka, berkesenian adalah kesibukan.

Panggung adalah rumah. Bagaimanapun proses pengkaderan  dan regenerasi harus terus berlangsung. Gelombang covid-19 menyapu segalanya. Tidak hanya menghentikan aktivitas seni kebiasaan, tapi juga membuat hidup yang tadinya sulit menjadi lebih pelik.  

Wabah tak hanya berdampak di dalam aktivitas WO Bharata, anggaran dengan sebelumnya mengucur dari pemerintah juga dialihkan untuk penanganan covid-19.

Melalui pentas daring, mereka membuktikan sekali lagi  jiwa dan semangat seni mereka tak pupus oleh wabah. Saat ini mereka berharap dari donasi serta monetifikasi video di Youtube seraya terus menghidupi seni tradisi dengan mandiri. Mereka ada dan akan terus eksis. Wabah tak sanggup mengubur kecintaan mereka kepada kecil tradisi. (M-4)