Bukti Novel Bantah Ada Pengeroyokan

Bukti Novel Bantah Ada Pengeroyokan

Bukti Novel Bantah Ada Pengeroyokan

MARTINI, 69, salah seorang saksi yang dihadirkan dalam sidang perkara penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, membantah berita jadwal pemeriksaan (BAP) yang menjelaskan berlaku peristiwa pengeroyokan saat pelaku menggunakan Novel. Martini menegaskan tak pernah menyampaikan soal pengeroyokan tersebut pada polisi. “Saya enggak ngomong begitu, enggak ada pengeroyokan, ” katanya di Pengadilan Negeri Jakarta Mengetengahkan, kemarin.

Dalam BAP yang dibacakan majelis hakim, disebutkan bahwa saksi Martini menjelaskan ada peristiwa pengeroyokan masa pelaku menyiram air keras ke wajah Novel di Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Selasa, 11 April 2017 sekitar pukul 05. 10 WIB.

Setelah mendengar keterangan dengan tertera dalam BAP tersebut, Martini pun keberatan. Majelis hakim awut-awutan bertanya apakah selama pemeriksaan saksi menjawab sendiri semua pertanyaan sebab polisi atau ada yang mengajari.

Martini menegaskan tak ada yang menuntunnya dalam menjawab semua pertanyaan petugas. Namun, dia mengaku tidak tahu kembali isi BAP seusai pemeriksaan.

“Iya jawab sendiri, enggak ada yang ajarin. Cuma saya enggak baca lagilah karena segitu banyak, ” ucap Martini.

Majelis hakim pun meminta Martini maju ke depan buat memastikan tanda tangan dan paraf di BAP tersebut. “Parafnya serta tanda tangan apa betul saksi memiliki? ” tanya hakim.

Martini membenarkan. Tetapi, dia menegaskan tak pernah menyebut ada peristiwa pengeroyokan. “Betul. Akan tetapi siapa yang bilang pengeroyokan dalam sini? Saya enggak ngomong begini-gini. Allah Mahatahu, ” tegasnya.

Dalam persidangan, kemarin, jaksa penuntut umum memper dua saksi. “Saksi tiga karakter. Hj Martini, Supandi, dan Dino. Namun, yang hadir hanya perut orang karena saksi atas tanda Dino sakit stroke, ” kata pendahuluan jaksa Fredik Adhar Syaripuddin.

Fredik mengecap ketiganya sempat menolong Novel seusai disiram air keras oleh Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette tak jauh dari rumahnya dalam Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Dalam kasus itu, Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette didakwa melakukan penganiayaan berat kepada Novel secara bersama-sama dan direncanakan. Tanduk itu berupa menyiramkan cairan masam sulfat (H2SO4) ke badan & muka Novel. Perbuatan Rahmat & Ronny membuat Novel mengalami luka berat.

Novel mengalami penyakit atau rintangan dalam menjalankan pekerjaan, yakni kebobrokan pada selaput bening (kornea) timbil kanan dan kiri. Luka itu berpotensi menyebabkan kebutaan atau hilangnya indra penglihatan.

Ronny dan Rahmat didakwa melanggar Pasal 355 ayat (1) atau 353 ayat (2) atau 351 ayat (2) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) pertama KUHP.

Dinilai janggal

Sebelumnya, tim advokasi Novel Baswedan menyuarakan ada sembilan kejanggalan dari persidangan kasus Novel. “Proses persidangan itu masih jauh dari harapan umum untuk bisa menggali fakta-fakta faktual dalam kasus itu, ” sekapur anggota tim advokasi, Kurnia Ramadhana, Minggu (10/5).

Kejanggalan itu antara asing dakwaan jaksa menunjukkan kasus penyiraman air keras terhadap Novel cuma sebagai penganiayaan biasa dan tidak berkaitan dengan pekerjaan Novel jadi penyidik KPK.

Dakwaan tersebut, kata Kurnia, bertentangan dengan temuan Tim Pencari Fakta bentukan Polri yang menyatakan penyiraman air keras terhadap Roman berkaitan dengan kasus korupsi yang ditangani Novel. (Medcom/P-3)