Anies Sebut ‘Testing Rate’ Jakarta Sebanding Singapura dan Jepang

Anies Sebut 'Testing Rate' Jakarta Sebanding Singapura dan Jepang

Anies Sebut ‘Testing Rate’ Jakarta Sebanding Singapura dan Jepang

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan dalam menangani covid-19 tingkat kemampuan tes atau ‘testing rate’ menjadi sangat penting. Dari testing rate itu akan tersaji keakuratan bukti penularan covid-19 dan laju kemajuan penularan yang akan menjadi pokok kebijakan penanganan covid-19 di suatu daerah.

WHO juga memberikan standar untuk testing suatu daerah agar bisa mempersembahkan data yang akurat mengenai covid-19, yakni jumlah testing per minggu. Minimal 1. 000 orang mulai 1 juta penduduk.

Anies memaparkan kalau testing rate Jakarta sudah melebihi standar WHO, bahkan sudah mencapai tiga sampai empat kali lipat penumpu WHO.

“Kita setara (kemampuan testing -nya) dengan kota-kota maju dunia. Dengan Singapura. Dengan Jepang. Kita setara karena kita empat kali lipat, ” kata Anies dalam sambutannya di kegiatan peresmian Pusat Layanan Masyarakat Polres Metro Jakarta Utara pagi tersebut.

Bekas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut memandang data yang dihasilkan teliti. Saat ini tingkat positif ‘positivity rate’ covid-19 dari banyaknya pengetesan, menurutnya, masih dalam ambang pemisah WHO, yakni 5, 8%.

Baca serupa: DKI Usul Pengunjung Tempat Per Malam Kantongi Hasil Tes Rapid

“Dikatakan aman juga tidak, tapi di ambang batas. Tapi kalau kita mengatakan positivity rate 5, 8% oleh sebab itu betul-betul 5, 8% sebab sampelnya cukup. Tapi bila testing-nya sedikit, tapi ‘positivity rate’-nya luhur, nah ini berbahaya nih, ” ujarnya.

Ia pun meminta agar keterangan tersebut dilihat secara keseluruhan serta bukan hanya dilihat dari penambahan kasusnya saja.

Sebab, menurutnya, bila penambahan kasus covid-19 berkisar puluhan, tetapi jumlah penduduknya sedikit, tingkat transmisi di daerah itu bisa dianggap tinggi. Namun, bila jumlah warga sangat banyak dan penambahan kasusnya sama-sama berkisar puluhan, bisa disebutkan laju penularannya rendah.

“Sayangnya selama ini kita selalu mengatakan hari tersebut tambah 400, hari ini tambah 200. Padahal 400 dari 10. 000 testing itu hanya 4%, akan tetapi kalau 400 dari 1. 000 testing itu namanya 40%. Nah kita lupa melihat persentasenya, ” tukasnya.

Sementara itu, jumlah kasus baru covid-19 Jakarta terus mengalami peningkatan di masa Pembatasan Sosial Berskala Gembung (PSBB) Transisi.

Berikut ini data jumlah kasus covid-19 di DKI Jakarta:
– 12 Juli, 404 kasus
– 20 Juli, 361 kasus
– 21 Juli, 441 kasus
semrawut 22 Juli, 382 kasus

Saat ini secara kumulatif total kasus covid-19 yang terkonfirmasi di Jakarta merupakan 17. 535 kasus. (OL-14)